sumber: goodreads “kalau mati dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada-itulah sebabnya setiap asing bisa jajah kita.” Begitu kutipan terkenal dari novel Larasati ini. Mengajarkan kita bahwa kita harus menghadapi segala hal di depan mata kita dengan berani. Sebaik-baiknya berani. Dalam hal apapun itu. Novel ini merekam golak revolusi Indonesia pascaprokalamasi melalui sudut pandang seorang perempuan yang berprofesi sebagai bintang film. Larasati namanya. Dari mata perempuan ini masa revolusi fisik digambarkannya dengan heroik, penuh haru, kadangkala penuh kemunafikan yang membuatku sesekali menghela napas. Larasati memandang revolusi tidak hanya sekedar perjuangan yang dilakukan oleh pemuda yang berapi-api, tetapi juga utuh dengan segenap gejolak perasaan yang menyertainya. Pram memulai kisah ini dari perjalanan Larasati dari pedalaman Yogya menuju daerah pendudukan NICA di Jakarta. Dari sana ia bertekad ingin membuktikan eksistensi diri...
Blog ini membahas seputar review buku dan hal-hal random lainnya -SN.